Saya? Kamu bertanya pada saya? Memangnya saya ada? Kamu dapat melihat saya? Walah. Saya kira saya transparan, tembus pandang layaknya masyarakat yang menginginkan transparansi anggaran pemerintahan. Sudahlah, jangan kebanyakan ngelantur, nanti malah dibilang banyak bacot.
Saya adalah tiada. Ada namun tiada? Kontradiktif. Memang. Saya adalah kontradiksi itu sendiri. Saya adalah paradoks yang terselip diantara benang takdir para manusia. Esensi dari saya tersembunyi di dalam perut ikan yang berenang diantara batu-batu Sungai Brisbane. Entitas saya tersebar pada bintang-bintang yang bertaburan di langit malam musim dingin. Saya adalah ketiadaan, serta sepi ialah sahabat saya. Saya tidak memiliki eksistensi disini, bagaikan sekelebatan angin musim dingin. Yang kehadirannya dikutuk oleh orang-orang yang membenci dingin.
Saya adalah ada dalam tiada, bagaikan sinaran lampu redup yang menerangi ruangan remang-remang di kala petang. Saya adalah dogma ateisme yang bersembunyi di antara lembaran kitab suci. Saya adalah kapitalisme gila-gilaan yang ada di dalam hati para petinggi Partai Komunis. Saya adalah abu-abu dalam simbol Yin-Yang. Saya adalah akreditasi halal yang tercetak pada kue-kue berisikan rum. Saya adalah Kya'i yang kafir. Saya adalah stripper ber-burqa'. Ya. Saya adalah kontradiksi yang mustahil. Saya adalah kemustahilan itu sendiri. Manifestasi dari ketidakpedulian akan sesuatu yang normal. Biarkanlah kegilaan dan keputusasaan yang telah meracuni diri ini merenggut kesadaranku. Aku sudah tidak peduli karena tidak ada lagi yang bisa diperjuangkan. Aku kehilangan gairah hidupku. Sudah tak ada lagi yang ingin kulakukan, selain meninggalkan dunia ini.
Ah, biarkanlah. Biarkan tubuh yang sudah dipenuhi racun ini hilang saja dari daftar manusia yang hidup.
kembali.
Kubungkus buah pikiranku dalam bahasa yang berbelit-belit sehingga hanya segelintir orang mengerti apa yang kumaksud. Hari ini kumulai dengan segelas kopi susu dan memasak nasi goreng. Tapi bukan untukku. Hari yang gelap ini kumulai dengan menyalakan bara diujung kumpulan tembakau berbalut kertas. Berharap ajal lekas datang menjemput. Impian dan cita-citaku nyaris sirna, tertelan takdir. Jikalau mimpi dan harapan telah lenyap, buat apa aku meneruskan eksistensiku di atas bumi ini? Akankah lebih baik jika aku tiada? Meringankan beban finansial kedua orang tuaku. Serta, tiada yang akan sadar dengan ketiadaanku.
Ah. Andaikan aku bisa lari dari sini. Dari Brisbane. Dimana ekspektasiku terpental begitu saja tanpa pembuktian. Dimana aku kehilangan jati diriku sebagai sebuah entitas. Dimana luruh harapanku sirna tertelan ambisi yang lain. Dimana kegagalan adalah satu-satunya keberhasilan yang kuraih. Dimana aku hanya seonggok daging, tulang, dan lemak yang hidup dari melintah kerja keras orang tua.
Inginku lari ke ranah Eropa atau Jepun atau New York City. Disanalah mimpiku singgah. Hampir setiap saat kuimpikan hidup di ketiga tempat tersebut. Aku menyebut mereka: 'the land of the dreams'. Apalah artinya mimpi jika muskil buatku untuk mencapainya? Apalah gunanya harapan jikalau hadirnya hanya membuat depresi? Apalah tujuan utama kehidupan jikalau akhirnya kita semua akan kembali mati, menjadi satu dengan bumi. Apalah tujuanku dilahirkan? Bila hanya bisa membawa kegagalan.
Ah. Sudahlah. Abaikan saja lanturanku barusan. Janganlah kau masukkan ke hati dan pikiranmu wahai kawan! Aku tak ingin menjadi beban bagi siapapun. Cukup sudah ketidakberdayaan menghantuiku. Lebih baik aku mati dengan kebanggaan daripada hidup dalam kenistaan.
Ingin kuraih kembali hidupku, yang hilang entah kemana bersamaan dengan perpisahan kita. Akan kembali kubuktikan bahwa aku adalah seseorang yang mampu. Yang mampu berjanji dan memenuhi janji itu. Yang mampu menantang dan mengalahkan lawannya. Yang mampu kembali berdiri setelah terjatuh diselengkat lawan.
Aku ingin kembali menemukan sisi pejuang dalam hidupku. Yang mampu menerobos segala halangan serta cobaan. Yang tidak pernah memedulikan aral yang melintang di jalannya. Yang tidak mudah puas dan mudah kecewa, serta kuat hatinya. Yang pernah menjadi seorang 'pemenang'. Ah! Aku rindu diriku yang seperti itu.
Pecundang. Ya. Mungkin saat ini aku adalah seorang pecundang. Mungkin salah satu pecundang terburuk di kota ini. Tapi aku tidak ingin menjadi pecundang. Aku terlahir sebagai seorang pemenang, bukan pecundang. Biarlah keluarga besarku menjadi medioker, tapi tidak bagi keluarga intiku. Ayah dan ibuku bukanlah seperti itu. Mereka adalah salah satu yang terbaik di bidang masing-masing. Aku tidak ingin menjadi pecundang seperti yang lain. Aku ingin menjadi pemenang. Karena takdir menggariskanku untuk menjadi seorang pemenang, bukan pecundang.
Biarlah semua sampah ini terkeluarkan. Hal-hal besar berawal dari niatan dan rencana bukan? Sekarang, aku akan menyusun rencana hidupku, mengembalikan jalur hidupku ke jalur seorang pemenang, bukan pecundang. Kembali ke jalur seorang pejuang, bukan seorang pengecut. Yah, setidaknya sampai saat ini aku masih memilih untuk terus jalan dan tidak menjadi pengecut. Jalan para pejuang dan pemenanglah yang akan kupilih. Jalan yang tidak lurus dan berkelok-kelok, serta naik-turun dan dipenuh lubang dan persimpangan. Tapi tak apa, karena aku akan kembali menemukan jalan yang seharusnya; jalan seorang pejuang dan pemenang.
Ah. Andaikan aku bisa lari dari sini. Dari Brisbane. Dimana ekspektasiku terpental begitu saja tanpa pembuktian. Dimana aku kehilangan jati diriku sebagai sebuah entitas. Dimana luruh harapanku sirna tertelan ambisi yang lain. Dimana kegagalan adalah satu-satunya keberhasilan yang kuraih. Dimana aku hanya seonggok daging, tulang, dan lemak yang hidup dari melintah kerja keras orang tua.
Inginku lari ke ranah Eropa atau Jepun atau New York City. Disanalah mimpiku singgah. Hampir setiap saat kuimpikan hidup di ketiga tempat tersebut. Aku menyebut mereka: 'the land of the dreams'. Apalah artinya mimpi jika muskil buatku untuk mencapainya? Apalah gunanya harapan jikalau hadirnya hanya membuat depresi? Apalah tujuan utama kehidupan jikalau akhirnya kita semua akan kembali mati, menjadi satu dengan bumi. Apalah tujuanku dilahirkan? Bila hanya bisa membawa kegagalan.
Ah. Sudahlah. Abaikan saja lanturanku barusan. Janganlah kau masukkan ke hati dan pikiranmu wahai kawan! Aku tak ingin menjadi beban bagi siapapun. Cukup sudah ketidakberdayaan menghantuiku. Lebih baik aku mati dengan kebanggaan daripada hidup dalam kenistaan.
Ingin kuraih kembali hidupku, yang hilang entah kemana bersamaan dengan perpisahan kita. Akan kembali kubuktikan bahwa aku adalah seseorang yang mampu. Yang mampu berjanji dan memenuhi janji itu. Yang mampu menantang dan mengalahkan lawannya. Yang mampu kembali berdiri setelah terjatuh diselengkat lawan.
Aku ingin kembali menemukan sisi pejuang dalam hidupku. Yang mampu menerobos segala halangan serta cobaan. Yang tidak pernah memedulikan aral yang melintang di jalannya. Yang tidak mudah puas dan mudah kecewa, serta kuat hatinya. Yang pernah menjadi seorang 'pemenang'. Ah! Aku rindu diriku yang seperti itu.
Pecundang. Ya. Mungkin saat ini aku adalah seorang pecundang. Mungkin salah satu pecundang terburuk di kota ini. Tapi aku tidak ingin menjadi pecundang. Aku terlahir sebagai seorang pemenang, bukan pecundang. Biarlah keluarga besarku menjadi medioker, tapi tidak bagi keluarga intiku. Ayah dan ibuku bukanlah seperti itu. Mereka adalah salah satu yang terbaik di bidang masing-masing. Aku tidak ingin menjadi pecundang seperti yang lain. Aku ingin menjadi pemenang. Karena takdir menggariskanku untuk menjadi seorang pemenang, bukan pecundang.
Biarlah semua sampah ini terkeluarkan. Hal-hal besar berawal dari niatan dan rencana bukan? Sekarang, aku akan menyusun rencana hidupku, mengembalikan jalur hidupku ke jalur seorang pemenang, bukan pecundang. Kembali ke jalur seorang pejuang, bukan seorang pengecut. Yah, setidaknya sampai saat ini aku masih memilih untuk terus jalan dan tidak menjadi pengecut. Jalan para pejuang dan pemenanglah yang akan kupilih. Jalan yang tidak lurus dan berkelok-kelok, serta naik-turun dan dipenuh lubang dan persimpangan. Tapi tak apa, karena aku akan kembali menemukan jalan yang seharusnya; jalan seorang pejuang dan pemenang.
Published with Blogger-droid v1.6.8
| Reactions: |
Lelah
Gelisah ku arungi malam ini. Seperti malam-malam sebelumnya yang kulalui dengan kesendirian sebagai teman. Malam ini cukup istimewa, ketika ku memutuskan untuk meninggalkan yang tercinta. Satu-satunya manusia yang bisa kucurahkan segala isi hati. Ya. Malam ini adalah yang terakhir ketika ku bercerita tentang kisah hidupku di tanah rantau. Mungkin. Tapi bukan berarti muskil. Lelah. Mungkin itu sesuatu yang cocok mendeskripsikan keadaanku saat ini. Kehidupan akademik disini membuatku lelah. Demi masa depan? Tai kucing. Nggak ada hubungannya. Semua ini kujalani dengan tulus dan rela. Kuberikan semua yang terbaik, sampai pada suatu titik. Aku lelah. Aku lelah memakai topeng sosial demi memiliki teman dan sahabat. Aku lelah berpura-pura baik di mata mereka. Sudah, cukuplah sudah.
Ditolak. Ya. Aku ditolak disini. Kenapa? Karena aku tidak sejalan dengan mereka. Karena aku tidak sejalan dengan siapapun disini. Aku sendiri karena aku memilih untuk berbeda, walaupun pada awalnya aku tidak ingin sendiri. Namun seleksi sosial yang berpihak pada aturan dan norma yang berlaku. Aku tak kuasa untuk melawan yang telah lama ada. Akankah ku menyerah pada kekuatan yang lebih besar? Kurasa iya. Lebih baik aku duduk sendiri, dalam diam. Tidak hidup, tidak pula mati. Lalu apa yang akan kuperbuat? Aku sendiri tidak tahu. Mungkin akan terus terkungkung dalam cangkang kesendirian ini. Apakah aku yang terlalu mudah menyerah? Mungkin. Biarkan dan abaikan celotehku kali ini. Ini semua hanya butuh dikeluarkan, tidak butuh untuk diladeni. Dengan ini, resmi kututup semuanya. Selamat tinggal dunia.
Ditolak. Ya. Aku ditolak disini. Kenapa? Karena aku tidak sejalan dengan mereka. Karena aku tidak sejalan dengan siapapun disini. Aku sendiri karena aku memilih untuk berbeda, walaupun pada awalnya aku tidak ingin sendiri. Namun seleksi sosial yang berpihak pada aturan dan norma yang berlaku. Aku tak kuasa untuk melawan yang telah lama ada. Akankah ku menyerah pada kekuatan yang lebih besar? Kurasa iya. Lebih baik aku duduk sendiri, dalam diam. Tidak hidup, tidak pula mati. Lalu apa yang akan kuperbuat? Aku sendiri tidak tahu. Mungkin akan terus terkungkung dalam cangkang kesendirian ini. Apakah aku yang terlalu mudah menyerah? Mungkin. Biarkan dan abaikan celotehku kali ini. Ini semua hanya butuh dikeluarkan, tidak butuh untuk diladeni. Dengan ini, resmi kututup semuanya. Selamat tinggal dunia.
| Reactions: |
Apa dan Siapa
What is the purpose of my creation? Beside wasting my parents' time and money. Saat ini adalah saat dimana wejangan kedua orangtua saya menghantui tiap ekstrak pikiran saya. 'Harus menjadi yang terbaik', itulah wejangan mereka. Sampai saat ini, aku selalu beranggapan bahwa aku adalah salah satu yang terbaik, meskipun bukan yang terbaik. Yang penting adalah tidak menjadi yang terburuk dan terbelakang.
Saat ketika tiada seorangpun datang menghampiri, dan menepuk pundak sembari bertanya 'apa kabar?' serta sedikit berbasa-basi (yang terkadang basa-basi tersebut bisa berlanjut ke meja diskusi hingga sekian jam lamanya). Saat dimana saya kehilangan diri saya. Siapa saya? Saya sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Apa tujuan saya hidup? Apa tujuan saya dilahirkan ke bumi ini? Saya masih tidak bisa menjawabnya. Dalam diam kelam malam kubertanya pada angin malam musim dingin yang bertiup. Terik panas matahari Brisbane menggoyahkan imanku tentang asa dan harapan. Membuatku ingin kembali pulang ke ranah penuh kehangatan dan harapan. Dimana keluarga dan sahabat berdiri, mencari hidup. Menerobos lalu lalang lintasan mobil, motor, dan kendaraan umum lainnya. Berjibaku menghirup polusi dan konsumerisme, tertawa menghisap Karbon Monoksida.
Pertanyaanku akan kehidupan tetap tidak terjawab, oleh kelamnya malam dan teriknya siang. Oleh buku-buku dan jurnal ilmiah di perpustakaan. Oleh kitab suci agama-agama Samawi, dan wahyu yang diterima oleh para Nabi. Sesekali kubertanya pada-Nya, Sang Tuhan yang Maha Kuasa, namun tak kudapat jua jawaban yang kubutuhkan. Ketika kupalingkan mukaku ke arah sungai, air yang mengalir dari hulu ke hilir, berisikan ikan-ikan dan CityCat yang berlalu lalang, mencari kehidupan yang bergelimang dosa dan asa.
Aku menemukan secercah harapan diantara asap-asap tembakau yang tertiup, yang berlalu lalang di udara. Potongan titik terang yang terselip diantara kartu remi yang dimainkan di meja kantin, pada gelas-gelas kosong yang tadinya berisikan Absinthe dan Bir bermerk Heineken. Sedikit kelegaan pada saat pikiranku hilang dan kosong karena ketiadaan Oksigen di otak. Kesadaran yang selama ini dibanggakan, sekarang bagai terinjak-injak oleh hilangnya identitas diri. Sepatah-dua patah kata jawaban yang tersembunyikan oleh alam, terukir di balik batu nisan seorang yang tidak dikenal.
Sepotong melodi dari video-video yang diunggah ke Youtube, serta manifestasi kebatinan yang tercurahkan di Twitter. Ketika Tumblr menjadi kanvas bagi para mereka yang berjiwa seniman namun tak berbakat. Ketika Facebook adalah bagian utama dari hidup seseorang. Lihatlah, ranah cyber sudah menjadi bagian tak terpisahkan bagi kita, kaum urban, yang merupakan warga Urbanesia, sub-bangsa Indonesia, yang terdiri dari para kaum urban di kota-kota metropolitan maupun yang 'akan menjadi' metropolis.
Kembali, kontemplasi batin kujalani dalam diam, ditemani Macbook White yang telah menemaniku selama hampir setahun kebelakang. Serta musik instrumental post-rock gubahan Té, sekumpulan musisi dari Jepang. Kutulis ini pada textbox sebuah blog daripada secarik kertas pada catatan kuliahku. Dinginnya cuaca menyambut musim dingin kusambut dengan suka dan cita.
Saat ini, keraguan besar tengah melanda. Aku harus mengambil sebuah keputusan besar; untuk terus lanjut atau berhenti sampai disini. Untuk hidup.
Saat ketika tiada seorangpun datang menghampiri, dan menepuk pundak sembari bertanya 'apa kabar?' serta sedikit berbasa-basi (yang terkadang basa-basi tersebut bisa berlanjut ke meja diskusi hingga sekian jam lamanya). Saat dimana saya kehilangan diri saya. Siapa saya? Saya sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Apa tujuan saya hidup? Apa tujuan saya dilahirkan ke bumi ini? Saya masih tidak bisa menjawabnya. Dalam diam kelam malam kubertanya pada angin malam musim dingin yang bertiup. Terik panas matahari Brisbane menggoyahkan imanku tentang asa dan harapan. Membuatku ingin kembali pulang ke ranah penuh kehangatan dan harapan. Dimana keluarga dan sahabat berdiri, mencari hidup. Menerobos lalu lalang lintasan mobil, motor, dan kendaraan umum lainnya. Berjibaku menghirup polusi dan konsumerisme, tertawa menghisap Karbon Monoksida.
Pertanyaanku akan kehidupan tetap tidak terjawab, oleh kelamnya malam dan teriknya siang. Oleh buku-buku dan jurnal ilmiah di perpustakaan. Oleh kitab suci agama-agama Samawi, dan wahyu yang diterima oleh para Nabi. Sesekali kubertanya pada-Nya, Sang Tuhan yang Maha Kuasa, namun tak kudapat jua jawaban yang kubutuhkan. Ketika kupalingkan mukaku ke arah sungai, air yang mengalir dari hulu ke hilir, berisikan ikan-ikan dan CityCat yang berlalu lalang, mencari kehidupan yang bergelimang dosa dan asa.
Aku menemukan secercah harapan diantara asap-asap tembakau yang tertiup, yang berlalu lalang di udara. Potongan titik terang yang terselip diantara kartu remi yang dimainkan di meja kantin, pada gelas-gelas kosong yang tadinya berisikan Absinthe dan Bir bermerk Heineken. Sedikit kelegaan pada saat pikiranku hilang dan kosong karena ketiadaan Oksigen di otak. Kesadaran yang selama ini dibanggakan, sekarang bagai terinjak-injak oleh hilangnya identitas diri. Sepatah-dua patah kata jawaban yang tersembunyikan oleh alam, terukir di balik batu nisan seorang yang tidak dikenal.
Sepotong melodi dari video-video yang diunggah ke Youtube, serta manifestasi kebatinan yang tercurahkan di Twitter. Ketika Tumblr menjadi kanvas bagi para mereka yang berjiwa seniman namun tak berbakat. Ketika Facebook adalah bagian utama dari hidup seseorang. Lihatlah, ranah cyber sudah menjadi bagian tak terpisahkan bagi kita, kaum urban, yang merupakan warga Urbanesia, sub-bangsa Indonesia, yang terdiri dari para kaum urban di kota-kota metropolitan maupun yang 'akan menjadi' metropolis.
Kembali, kontemplasi batin kujalani dalam diam, ditemani Macbook White yang telah menemaniku selama hampir setahun kebelakang. Serta musik instrumental post-rock gubahan Té, sekumpulan musisi dari Jepang. Kutulis ini pada textbox sebuah blog daripada secarik kertas pada catatan kuliahku. Dinginnya cuaca menyambut musim dingin kusambut dengan suka dan cita.
Saat ini, keraguan besar tengah melanda. Aku harus mengambil sebuah keputusan besar; untuk terus lanjut atau berhenti sampai disini. Untuk hidup.
| Reactions: |
Seorang Manusia
Sinar lilin mengikat, mengingatkan akan arti kebebasan
Memberi udara dan berlari tanpa beban, menuju mimpi dan cita-cita
Idealisme akan kehidupan membelenggu hati
Melepas asa, memanggil nelangsa
Gelap malam memanggil, mengajak bertualang dalam imaji
Sinaran bintang tak nampak tertutup awan yang berlarian tertiup angin malam
Mengutuk malam dan kesendirian seolah itu adalah kejahatan
Sia-sialah mereka yang terperangkap dalam kandang tanpa berusaha mendobrak
Meratapi nasib tanpa niatan berbuat
Nistakan harkat hidup manusia, jikalau jalani itu tanpa ikhtiar
Memberi udara dan berlari tanpa beban, menuju mimpi dan cita-cita
Idealisme akan kehidupan membelenggu hati
Melepas asa, memanggil nelangsa
Gelap malam memanggil, mengajak bertualang dalam imaji
Sinaran bintang tak nampak tertutup awan yang berlarian tertiup angin malam
Mengutuk malam dan kesendirian seolah itu adalah kejahatan
Sia-sialah mereka yang terperangkap dalam kandang tanpa berusaha mendobrak
Meratapi nasib tanpa niatan berbuat
Nistakan harkat hidup manusia, jikalau jalani itu tanpa ikhtiar
| Reactions: |
paradoks.
Sendiri di tengah kegelapan malam
Tertelan kelamnya sepi
Sinaran bintang menyinar
Mengganti bulan yang tertutup awan
Sensasi ragawi kurasa sendiri
Kontemplasi batin kujalani dalam diam
Ditemani sinaran alam temaram
Hembusan angin bertiup bersahutan
Tetes air menetes dalam keheningan
Embun pagi merintih perih pada dinginnya
Kicauan makhluk bersayap menyambut pagi
Sesekali kendaraan berlalu
Luruh dunia larut dalam bisu
Langit malam berubah membiru
Ingin berucap namun lidahku kelu
Tiada guna berkata apa
Jikalau tak ada telinga
Niscaya bersimbahkan nestapa
Serta bertabur dosa
Sendiri dalam diam
Seorang di sisi alam
Tunggal mendendam
Berbisik kepada haram
Tak kuasa berdendang
Melantunkan tembang harapan
Utuh dan lengkap
Ketika ku sendiri bertemankan semesta
Tertelan kelamnya sepi
Sinaran bintang menyinar
Mengganti bulan yang tertutup awan
Sensasi ragawi kurasa sendiri
Kontemplasi batin kujalani dalam diam
Ditemani sinaran alam temaram
Hembusan angin bertiup bersahutan
Tetes air menetes dalam keheningan
Embun pagi merintih perih pada dinginnya
Kicauan makhluk bersayap menyambut pagi
Sesekali kendaraan berlalu
Luruh dunia larut dalam bisu
Langit malam berubah membiru
Ingin berucap namun lidahku kelu
Tiada guna berkata apa
Jikalau tak ada telinga
Niscaya bersimbahkan nestapa
Serta bertabur dosa
Sendiri dalam diam
Seorang di sisi alam
Tunggal mendendam
Berbisik kepada haram
Tak kuasa berdendang
Melantunkan tembang harapan
Utuh dan lengkap
Ketika ku sendiri bertemankan semesta
Published with Blogger-droid v1.6.8
| Reactions: |
hidup
sendiri.
tersesat.
hilang.
lenyap.
sirna.
kembalilah dia
dari petualangan panjang tanpa hasil
tiada cerita
hanya membuang waktu
tak bisa diulang
dibuang begitu saja
seolah rupakan nestapa
bagai kenangan tiada arti
tak pedulilah dia
akan yang telah terbuang dengan sia-sia
tentang semua kata yang terucap
air mata yang tertetes
keringat yang mengalir
dan luka yang tertoreh
hilanglah akan sukma yang tersimpan
tersia dalam nestapa dan nelangsa
apalah makna kehidupan?
bila akhirnya hanyalah kekosongan
tersesat.
hilang.
lenyap.
sirna.
kembalilah dia
dari petualangan panjang tanpa hasil
tiada cerita
hanya membuang waktu
tak bisa diulang
dibuang begitu saja
seolah rupakan nestapa
bagai kenangan tiada arti
tak pedulilah dia
akan yang telah terbuang dengan sia-sia
tentang semua kata yang terucap
air mata yang tertetes
keringat yang mengalir
dan luka yang tertoreh
hilanglah akan sukma yang tersimpan
tersia dalam nestapa dan nelangsa
apalah makna kehidupan?
bila akhirnya hanyalah kekosongan
| Reactions: |
foolish
i have always try to be there when they need me
but when i need them?
no one was there
all of my effort was vain
when the result's like this
why would i be the fool?
is it my fate to be one?
maybe i've been trying to be strong for too long
should i keep going?
or should i stop trying?
i don't know which to choose
but when i need them?
no one was there
all of my effort was vain
when the result's like this
why would i be the fool?
is it my fate to be one?
maybe i've been trying to be strong for too long
should i keep going?
or should i stop trying?
i don't know which to choose
| Reactions: |
over
wrong. it's all feel so wrong
nothing is right
no one is here when i seek refuge
i just want to find peace
i'm no longer seeking for glory
since the days have passed
it's all over now, my glorious days
nothing is right
no one is here when i seek refuge
i just want to find peace
i'm no longer seeking for glory
since the days have passed
it's all over now, my glorious days
| Reactions: |
Distrust.
Maybe I'm standing on the edge of my consciousness and conscience. It's been years since I felt like this, and now the feeling is back.
Rejection. Distrust. Betrayal.
I am back to my old self, when there was no love. When there was only loneliness and hatred. When i had nothing but myself. You have betrayed me, and i thank you for opening me horizon. I have woke up from the deep sleep, and now i just want to do what i wish.
Call me unfashionable, but i don't give a damn about that.
Call me outdated, and still don't give a damn about that.
I'll just let it all out. Speak all i want to say: fuck you.
Rejection. Distrust. Betrayal.
I am back to my old self, when there was no love. When there was only loneliness and hatred. When i had nothing but myself. You have betrayed me, and i thank you for opening me horizon. I have woke up from the deep sleep, and now i just want to do what i wish.
Call me unfashionable, but i don't give a damn about that.
Call me outdated, and still don't give a damn about that.
I'll just let it all out. Speak all i want to say: fuck you.
Published with Blogger-droid v1.6.8
| Reactions: |
Subscribe to:
Posts (Atom)