Monolog Saya

|
Saya? Kamu bertanya pada saya? Memangnya saya ada? Kamu dapat melihat saya? Walah. Saya kira saya transparan, tembus pandang layaknya masyarakat yang menginginkan transparansi anggaran pemerintahan. Sudahlah, jangan kebanyakan ngelantur, nanti malah dibilang banyak bacot.

Saya adalah tiada. Ada namun tiada? Kontradiktif. Memang. Saya adalah kontradiksi itu sendiri. Saya adalah paradoks yang terselip diantara benang takdir para manusia. Esensi dari saya tersembunyi di dalam perut ikan yang berenang diantara batu-batu Sungai Brisbane. Entitas saya tersebar pada bintang-bintang yang bertaburan di langit malam musim dingin. Saya adalah ketiadaan, serta sepi ialah sahabat saya. Saya tidak memiliki eksistensi disini, bagaikan sekelebatan angin musim dingin. Yang kehadirannya dikutuk oleh orang-orang yang membenci dingin.

Saya adalah ada dalam tiada, bagaikan sinaran lampu redup yang menerangi ruangan remang-remang di kala petang. Saya adalah dogma ateisme yang bersembunyi di antara lembaran kitab suci. Saya adalah kapitalisme gila-gilaan yang ada di dalam hati para petinggi Partai Komunis. Saya adalah abu-abu dalam simbol Yin-Yang. Saya adalah akreditasi halal yang tercetak pada kue-kue berisikan rum. Saya adalah Kya'i yang kafir. Saya adalah stripper ber-burqa'. Ya. Saya adalah kontradiksi yang mustahil. Saya adalah kemustahilan itu sendiri. Manifestasi dari ketidakpedulian akan sesuatu yang normal. Biarkanlah kegilaan dan keputusasaan yang telah meracuni diri ini merenggut kesadaranku. Aku sudah tidak peduli karena tidak ada lagi yang bisa diperjuangkan. Aku kehilangan gairah hidupku. Sudah tak ada lagi yang ingin kulakukan, selain meninggalkan dunia ini.

Ah, biarkanlah. Biarkan tubuh yang sudah dipenuhi racun ini hilang saja dari daftar manusia yang hidup.

0 comments: