Gelisah ku arungi malam ini. Seperti malam-malam sebelumnya yang kulalui dengan kesendirian sebagai teman. Malam ini cukup istimewa, ketika ku memutuskan untuk meninggalkan yang tercinta. Satu-satunya manusia yang bisa kucurahkan segala isi hati. Ya. Malam ini adalah yang terakhir ketika ku bercerita tentang kisah hidupku di tanah rantau. Mungkin. Tapi bukan berarti muskil. Lelah. Mungkin itu sesuatu yang cocok mendeskripsikan keadaanku saat ini. Kehidupan akademik disini membuatku lelah. Demi masa depan? Tai kucing. Nggak ada hubungannya. Semua ini kujalani dengan tulus dan rela. Kuberikan semua yang terbaik, sampai pada suatu titik. Aku lelah. Aku lelah memakai topeng sosial demi memiliki teman dan sahabat. Aku lelah berpura-pura baik di mata mereka. Sudah, cukuplah sudah.
Ditolak. Ya. Aku ditolak disini. Kenapa? Karena aku tidak sejalan dengan mereka. Karena aku tidak sejalan dengan siapapun disini. Aku sendiri karena aku memilih untuk berbeda, walaupun pada awalnya aku tidak ingin sendiri. Namun seleksi sosial yang berpihak pada aturan dan norma yang berlaku. Aku tak kuasa untuk melawan yang telah lama ada. Akankah ku menyerah pada kekuatan yang lebih besar? Kurasa iya. Lebih baik aku duduk sendiri, dalam diam. Tidak hidup, tidak pula mati. Lalu apa yang akan kuperbuat? Aku sendiri tidak tahu. Mungkin akan terus terkungkung dalam cangkang kesendirian ini. Apakah aku yang terlalu mudah menyerah? Mungkin. Biarkan dan abaikan celotehku kali ini. Ini semua hanya butuh dikeluarkan, tidak butuh untuk diladeni. Dengan ini, resmi kututup semuanya. Selamat tinggal dunia.
0 comments:
Post a Comment