Ah. Andaikan aku bisa lari dari sini. Dari Brisbane. Dimana ekspektasiku terpental begitu saja tanpa pembuktian. Dimana aku kehilangan jati diriku sebagai sebuah entitas. Dimana luruh harapanku sirna tertelan ambisi yang lain. Dimana kegagalan adalah satu-satunya keberhasilan yang kuraih. Dimana aku hanya seonggok daging, tulang, dan lemak yang hidup dari melintah kerja keras orang tua.
Inginku lari ke ranah Eropa atau Jepun atau New York City. Disanalah mimpiku singgah. Hampir setiap saat kuimpikan hidup di ketiga tempat tersebut. Aku menyebut mereka: 'the land of the dreams'. Apalah artinya mimpi jika muskil buatku untuk mencapainya? Apalah gunanya harapan jikalau hadirnya hanya membuat depresi? Apalah tujuan utama kehidupan jikalau akhirnya kita semua akan kembali mati, menjadi satu dengan bumi. Apalah tujuanku dilahirkan? Bila hanya bisa membawa kegagalan.
Ah. Sudahlah. Abaikan saja lanturanku barusan. Janganlah kau masukkan ke hati dan pikiranmu wahai kawan! Aku tak ingin menjadi beban bagi siapapun. Cukup sudah ketidakberdayaan menghantuiku. Lebih baik aku mati dengan kebanggaan daripada hidup dalam kenistaan.
Ingin kuraih kembali hidupku, yang hilang entah kemana bersamaan dengan perpisahan kita. Akan kembali kubuktikan bahwa aku adalah seseorang yang mampu. Yang mampu berjanji dan memenuhi janji itu. Yang mampu menantang dan mengalahkan lawannya. Yang mampu kembali berdiri setelah terjatuh diselengkat lawan.
Aku ingin kembali menemukan sisi pejuang dalam hidupku. Yang mampu menerobos segala halangan serta cobaan. Yang tidak pernah memedulikan aral yang melintang di jalannya. Yang tidak mudah puas dan mudah kecewa, serta kuat hatinya. Yang pernah menjadi seorang 'pemenang'. Ah! Aku rindu diriku yang seperti itu.
Pecundang. Ya. Mungkin saat ini aku adalah seorang pecundang. Mungkin salah satu pecundang terburuk di kota ini. Tapi aku tidak ingin menjadi pecundang. Aku terlahir sebagai seorang pemenang, bukan pecundang. Biarlah keluarga besarku menjadi medioker, tapi tidak bagi keluarga intiku. Ayah dan ibuku bukanlah seperti itu. Mereka adalah salah satu yang terbaik di bidang masing-masing. Aku tidak ingin menjadi pecundang seperti yang lain. Aku ingin menjadi pemenang. Karena takdir menggariskanku untuk menjadi seorang pemenang, bukan pecundang.
Biarlah semua sampah ini terkeluarkan. Hal-hal besar berawal dari niatan dan rencana bukan? Sekarang, aku akan menyusun rencana hidupku, mengembalikan jalur hidupku ke jalur seorang pemenang, bukan pecundang. Kembali ke jalur seorang pejuang, bukan seorang pengecut. Yah, setidaknya sampai saat ini aku masih memilih untuk terus jalan dan tidak menjadi pengecut. Jalan para pejuang dan pemenanglah yang akan kupilih. Jalan yang tidak lurus dan berkelok-kelok, serta naik-turun dan dipenuh lubang dan persimpangan. Tapi tak apa, karena aku akan kembali menemukan jalan yang seharusnya; jalan seorang pejuang dan pemenang.
Published with Blogger-droid v1.6.8
0 comments:
Post a Comment