Apa dan Siapa

|
What is the purpose of my creation? Beside wasting my parents' time and money. Saat ini adalah saat dimana wejangan kedua orangtua saya menghantui tiap ekstrak pikiran saya. 'Harus menjadi yang terbaik', itulah wejangan mereka. Sampai saat ini, aku selalu beranggapan bahwa aku adalah salah satu yang terbaik, meskipun bukan yang terbaik. Yang penting adalah tidak menjadi yang terburuk dan terbelakang.

Saat ketika tiada seorangpun datang menghampiri, dan menepuk pundak sembari bertanya 'apa kabar?' serta sedikit berbasa-basi (yang terkadang basa-basi tersebut bisa berlanjut ke meja diskusi hingga sekian jam lamanya). Saat dimana saya kehilangan diri saya. Siapa saya? Saya sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Apa tujuan saya hidup? Apa tujuan saya dilahirkan ke bumi ini? Saya masih tidak bisa menjawabnya. Dalam diam kelam malam kubertanya pada angin malam musim dingin yang bertiup. Terik panas matahari Brisbane menggoyahkan imanku tentang asa dan harapan. Membuatku ingin kembali pulang ke ranah penuh kehangatan dan harapan. Dimana keluarga dan sahabat berdiri, mencari hidup. Menerobos lalu lalang lintasan mobil, motor, dan kendaraan umum lainnya. Berjibaku menghirup polusi dan konsumerisme, tertawa menghisap Karbon Monoksida.

Pertanyaanku akan kehidupan tetap tidak terjawab, oleh kelamnya malam dan teriknya siang. Oleh buku-buku dan jurnal ilmiah di perpustakaan. Oleh kitab suci agama-agama Samawi, dan wahyu yang diterima oleh para Nabi. Sesekali kubertanya pada-Nya, Sang Tuhan yang Maha Kuasa, namun tak kudapat jua jawaban yang kubutuhkan. Ketika kupalingkan mukaku ke arah sungai, air yang mengalir dari hulu ke hilir, berisikan ikan-ikan dan CityCat yang berlalu lalang, mencari kehidupan yang bergelimang dosa dan asa.

Aku menemukan secercah harapan diantara asap-asap tembakau yang tertiup, yang berlalu lalang di udara. Potongan titik terang yang terselip diantara kartu remi yang dimainkan di meja kantin, pada gelas-gelas kosong yang tadinya berisikan Absinthe dan Bir bermerk Heineken. Sedikit kelegaan pada saat pikiranku hilang dan kosong karena ketiadaan Oksigen di otak. Kesadaran yang selama ini dibanggakan, sekarang bagai terinjak-injak oleh hilangnya identitas diri. Sepatah-dua patah kata jawaban yang tersembunyikan oleh alam, terukir di balik batu nisan seorang yang tidak dikenal.

Sepotong melodi dari video-video yang diunggah ke Youtube, serta manifestasi kebatinan yang tercurahkan di Twitter. Ketika Tumblr menjadi kanvas bagi para mereka yang berjiwa seniman namun tak berbakat. Ketika Facebook adalah bagian utama dari hidup seseorang. Lihatlah, ranah cyber sudah menjadi bagian tak terpisahkan bagi kita, kaum urban, yang merupakan warga Urbanesia, sub-bangsa Indonesia, yang terdiri dari para kaum urban di kota-kota metropolitan maupun yang 'akan menjadi' metropolis.

Kembali, kontemplasi batin kujalani dalam diam, ditemani Macbook White yang telah menemaniku selama hampir setahun kebelakang. Serta musik instrumental post-rock gubahan Té, sekumpulan musisi dari Jepang. Kutulis ini pada textbox sebuah blog daripada secarik kertas pada catatan kuliahku. Dinginnya cuaca menyambut musim dingin kusambut dengan suka dan cita.

Saat ini, keraguan besar tengah melanda. Aku harus mengambil sebuah keputusan besar; untuk terus lanjut atau berhenti sampai disini. Untuk hidup.

0 comments: